Di Antara Goresan Pena dan Baris Kode: Sehari Penuh Rintangan dan Harapan Baru

    Perkenalkan, saya Nujula Rahma. Saya adalah seorang penikmat seni dalam bentuk apa pun. Bagi saya, dunia ini adalah kanvas yang luas. Kadang, saya mengisinya dengan goresan tinta yang melukiskan cerita, kadang dengan sapuan warna yang menangkap emosi, dan di waktu lain, dengan baris-baris kode yang terstruktur rapi yang membangun sebuah projek kecil-kecilan. Menulis, melukis, dan coding adalah tiga bahasa yang saya gunakan untuk memahami dan menciptakan dunia di sekitar saya.

    Hari ini dimulai dengan sesuatu yang sederhana namun fundamental: membersihkan dan menata ruang kerja. Saya percaya bahwa pikiran yang jernih berasal dari lingkungan yang rapi. Setelah segalanya kembali pada tempatnya, saya pun melahap tugas-tugas kreatif dengan semangat yang baru. Sebuah video berhasil saya rangkai dari potongan-potongan memori, sebuah foto saya abadikan dengan komposisi yang selalu saya sukai, dan beberapa foto lainnya saya susun rapi menjadi sebuah slide yang mampu bercerita tanpa kata. Setiap proses itu adalah meditasi tersendiri, sebuah wujud dari hasrat saya akan kreasi.

    Siang harinya, evaluasi menjadi agenda utama melalui panggilan video bersama tim. Diskusi yang hangat dan masukan yang membangun menjadi cermin untuk melihat pekerjaan dari sudut pandang yang berbeda, sebuah langkah penting agar terus bertumbuh. Usai vcall, saya membuat daftar semua tugas yang masih menanti di meja digital saya, sebuah cara untuk memetakan medan perang agar tidak ada yang terlewat.

    Namun, tak seindah fajar yang terbit, sebuah badai kecil hadir di sore hari. Saat hendak mengunggah tugas artikel yang sudah menumpuk—tepatnya 70 buah—saya dihadapkan pada kenyataan pahit. Ada 50 tulisan artikel lain yang belum sempat tersimpan. Rasa sedih dan kecewa bercampur menjadi satu. Berjam-jam kerja seolah lenyap dalam sekejap.

Setelah sempat larut dalam kesedihan, saya mencoba menenangkan diri dan berpikir jernih. Menyesali tidak akan mengembalikan file tersebut. Saya pun membuat rencana darurat:

  1. Menerima dan Melepaskan: Hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima kejadian ini sebagai pelajaran. Ini menyakitkan, tapi menyalahkan diri hanya akan membuang energi.
  2. Pemulihan Data: Saya akan mencoba menggunakan software pemulihan data untuk mencari file yang hilang, meski peluangnya mungkin kecil. Tidak ada salahnya untuk berusaha.
  3. Cek Auto-Save dan Cloud: Saya akan menelusuri kembali folder temporary dan mencoba mencari jejak file di layanan cloud, siapa tahu ada versi yang tersimpan otomatis.
  4. Memulai Kembali: Jika semua upaya gagal, saya sudah membuat keputusan. Besok adalah hari baru untuk menulis kembali 50 artikel itu. Mungkin hasilnya nanti akan jauh lebih baik.
    Alih-alih terpuruk, saya mencoba mengalihkan fokus pada hal yang lebih positif. Saya mulai merenung dan kembali mencari bahan serta menggali pengalaman pribadi untuk tugas personal branding saya. Ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kegagalan, ada always a lesson to be learned dan sebuah kesempatan untuk memperkenalkan diri yang lebih baik.

Mungkin inilah cara kerja seorang Nujula Rahma. Terjatuh, merasa sakit, lalu bangkit kembali, dengan goresan pena dan baris kode siap untuk memulai halaman baru. Hari ini memang berat, tapi esok adalah harapan baru.


Baca juga jurnal sebelumnya 

https://nujularahma.blogspot.com/2026/01/day-32-pkl_22.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 13 PKL

Day 10 PKL di PT.KINERGI