Hari ini dimulai dengan niat yang cukup mulia: membersihkan rumah dari ujung ke ujung. Aku ingin memulai minggu dengan ruangan yang segar, lantai yang mengkilap, dan aroma wangi pewangi ruangan yang menenangkan. Dengan musik favorit dari playlist online, aku bergerak dari satu sudut ke sudut lain, menyortir barang-barang yang tidak lagi terpakai dan mengatur ulang perabotan agar terasa lebih lapang. Rasa puas itu datang ketika aku melihat hasil kerjaku; rumah terasa begitu nyaman dan memesona.
Setelah selesai dan mandi, langkah selanjutnya seharusnya adalah bersantai sambil menyelesaikan beberapa tugas online. Aku membuka laptop, siap untuk memulai, tapi yang kutemukan hanyalah ikon Wi-Fi berwarna abu-abu dengan tanda seru di sampingnya. Aneh. Koneksi ini sudah bermasalah sejak tadi malam, tapi kuduga akan pulih sendiri. Aku pun mencoba langkah-langkah standar: me-restart modem, mencabut dan mencolokkan kembali kabel, bahkan mengirim doa-doa kecil agar internetnya kembali normal. Tak ada yang berhasil.
Rasa penasaran membawaku ke jendela, melihat ke arah tiang utilitas di belakang rumah. Ah, ternyata ini biang keladinya. Sebuah cabang pohon yang cukup besar, basah kuyup oleh air hujan, terlihat menjuntai dan menekan kabel serat optik. Pasti ini sisa-sisa dari hujan deras semalam yang mengguncang segalanya. Hujan yang begitu lebat itu rupanya tidak hanya membuat koneksi di rumah putus-putus sebelum akhirnya mati total, tetapi juga merobohkan bagian dari pohon di tetangga sebelah. Tak heran jika dari semalam hingga sore ini, dunia maya terasa begitu jauh.
"Tenang saja," kataku pada diri sendiri. "Masih ada hotspot." Dengan sedikit harapan, aku mengaktifkan tethering dari ponsel. Koneksi tersambung, tapi sangat lambat dan tidak stabil, terhambat oleh cuaca buruk yang sama. Berharap bisa setidaknya mengirim email kecil, aku tetap mencoba. Namun, usaha sia-sia itu hanya berakhir dengan satu pemberitahuan menyebalkan di layar ponsel: kuota internetku habis terkuras. Satu per satu, jalan untuk terhubung dengan dunia luar tertutup. Selama beberapa saat, aku hanya bisa duduk di depan laptop yang kosong, merasa frustasi dan terisolasi.
Lalu, sesuatu klik di benakku. Mengapa aku terus memerangi sesuatu yang jelas-jelas di luar kendali? Daripada membuang energi untuk kesal, aku memutuskan untuk berdamai dengan keadaan. Aku mulai menyicil tugas-tugasku sebisa mungkin. Untuk tugas yang membutuhkan riset mendalam, aku menampungnya dulu di daftar "nanti". Aku fokus pada yang bisa dilakukan secara offline: menulis draf artikel berdasarkan apa yang sudah aku ketahui, mengedit beberapa foto yang tersimpan di hard drive, dan merapihkan folder-file yang berantakan di laptop.
Ternyata, tanpa gangguan notifikasi dan godaan untuk membuka tab baru, aku bisa begitu fokus. Hari ini tidak berjalan sesuai rencana, tapi justru karena "terpaksa" offline, aku menemukan produktivitas yang berbeda. Mungkin terkadang, kita memang perlu dipaksa terputus dari kebisingan digital untuk bisa benar-benar terhubung dan menyelesaikan apa yang ada di depan kita. Dan rumahku yang bersih itu menjadi saksi bisu dari hari yang tak terduga namun ternyata cukup memuaskan.
Komentar
Posting Komentar