Di Antara Jeda dan Tekad by Nujul Rahma
Hari itu dimulai dengan langkah-langkah kecil yang terasa ringan namun bermakna. Aku mengawali pagi dengan beres-beres sederhana, menata ulang ruang dan pikiran agar terasa lebih lapang. Setelahnya, sarapan menjadi jeda singkat yang menguatkan tubuh, seolah memberi bekal untuk menghadapi hari yang belum sepenuhnya bisa ditebak arahnya.
Tugas-tugas mulai kucicil perlahan. Tidak terburu-buru, namun tetap berusaha konsisten. Di sela proses itu, sebuah panggilan video berlangsung dengan pihak PKL. Percakapan kami berfokus pada pembahasan buku—tentang arah, isi, dan bagaimana setiap halaman bisa mewakili proses belajar yang sedang dijalani. Obrolan itu membuka sudut pandang baru, meski juga menguras energi.
Tanpa terasa, rasa lelah mengambil alih dan aku pun tertidur. Ketika terbangun, hujan turun deras disertai badai, membuat semua rencana terasa harus berhenti sejenak. Hari seperti dipaksa untuk jeda, memberi isyarat bahwa tidak semua hal bisa dilanjutkan saat itu juga. Aku memilih kembali beristirahat, membiarkan tubuh memulihkan diri sambil menunggu waktu yang lebih tenang.
Menjelang subuh, suasana berubah. Sunyi yang dingin justru menghadirkan tekad baru. Dengan mata yang masih berat namun niat yang kuat, aku kembali menuntaskan tugas yang sempat tertunda. Di waktu yang sering dilewatkan banyak orang itu, aku belajar bahwa ketekunan tidak selalu lahir dari hari yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk melanjutkan, bahkan setelah banyak jeda.
Web Hepatitis:
Web rs:
https://rumahsakit.uk/hipertensi-si-pembunuh-senyap-yang-mengintai-di-balik-kesibukan-harian/
https://rumahsakit.uk/diabetes-melitus-mengenal-musuh-di-balik-gula-manis-dan-cara-menaklukkannya/
Jasa web:
Komentar
Posting Komentar